BP-Paudni Kemdikbud Dirikan Posko Pemulihan Trauma Di Daerah Bencana Gunung Kelud
Kediri, Kemdikbud --- Sebagai salah satu aksi tanggap bencana, Balai Pengembangan PAUDNI Regional II Surabaya membangun posko di dua titik yang terdampak letusan gunung Kelud di kabupaten Kediri. Di posko tersebut, sejumlah pamong belajar bertugas secara bergiliran.
Mereka mengajak anak-anak bermain bersama di posko yang dibangun sejak Senin lalu. ”Ini merupakan upaya trauma healing, atau terapi agar anak-anak PAUD terhibur,” ucap Kepala Balai Pengembangan PAUDNI, Pria Gunawan, di Kediri, (21/2/2014).
Sementara itu sebanyak 57 PAUD di Kabupaten Kediri rusak terkena dampak letusan gunung Kelud. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, dari 57 PAUD tersebut, sebanyak 15 PAUD rusak berat, 25 rusak sedang, dan 17 rusak ringan. PAUD-PAUD tersebut tersebar di Kecamatan Pare, Ngancar, Wates, Puncu, Kepung, dan Plosoklaten.
Kerusakan terparah dialami lembaga PAUD di wilayah Kecamatan Puncu. Sebanyak 5 PAUD di desa yang berjarak sekira 3 kilometer dari puncak gunung Kelud tersebut seluruhnya rusak berat.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pemuda Olahraga dan Pendidikan Nonformal Kabupaten Kediri Sujud Winarko, usai menerima tim Tanggap Darurat Bencana Gunung Kelud Ditjen PAUDNI Kemdikbud, Jumat (21/2/2014). Pada kesempatan tersebut, tim menyerahkan bantuan Alat Permainan Edukatif, Obat-obatan, popok bayi, dan pakaian untuk anak-anak dan orang dewasa.
Selain itu, sejumlah SD dan SMP juga mengalami kondisi serupa. Atap sejumlah sekolah diselimuti abu yang mengakibatkan beberapa bagian bangunan rusak. Seperti SMPN dan SDN Puncu yang seluruh atapnya tertutup abu tebal. Bahkan, salah satu atap ruangannya roboh.
Ketika mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mengunjungi pengungsi korban Gunung Kelud, Mendikbud mengatakan semua sekolah yang rusak akibat erupsi Gunung Kelud akan dibantu untuk diperbaiki atau dibangun lagi. Dana pemerintah tak terbatas untuk itu.
“Berapa pun dibangun. Itu pasti. Anggaran sudah disiapkan,” tegas Mendikbud, di Kediri, Jawa Timur, (17/2/2014). Kemdikbud masih menunggu kepastian data kerusakan sekolah, termasuk dikelompokkan mana yang rusak berat dan ringan. (Yohan Rubiyantoro)
